Pastor Asal Noemuti TTU Hamili Gadis Belu, Keuskupan Atambua Tidak Beri Pernyataan Apa Pun

Keterangan foto: Romo Marly Knaofmone, Pr -- Pastor asal Noemuti, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), NTT, yang telah menghamili Dessy Ulu seorang gadis asal Kabupaten Belu dari Suku Bunaq/ Marae pada tahun 2017. Dessy Ulu telah melahirkan anak pertamanya berjenis kelamin laki-laki yang diberi nama Kevin Mario oleh Marly Knaofmone sebagai ayah biologis.

 

Laporan Investigatif

 

LEBAHTIMOR.COM—Romo Marly Knaofmone, Pr -- seorang Pastor Projo asal Noemuti, Kabupaten TTU, NTT, yang berkarya di Keuskupan Atambua tepatnya di Kabupaten Belu, telah menghamili Dessy Ulu pada tahun 2017 sampai punya anak dan tidak mau bertanggung jawab. Pihak Keuskupan Atambua tidak memberi pernyataan apa pun atas kasus itu.

Dessy Ulu positif hamil pada bulan Maret tahun 2017, setelah dihamili Romo Marly Knaofmone, Pr -- yang adalah seorang pastor asal Noemuti, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), tidak mau bertanggung jawab.

Berdasarkan pengakuan korban dan keluarga korban bahwa bulan Desember tahun 2017, Dessy Ulu yang adalah warga asli Belu dari suku Bunaq dan/atau Marae, melahirkan anak pertamanya berjenis kelamin laki-laki di RSUD Monsinyur Gabriel Manek SVD Atambua.

Setelah Dessy Ulu melahirkan anak pertamanya itu, Pastor Marly Knaofmone, tidak mau bertanggung jawab. Malah, Marly bebas menggoda banyak perempuan yang sudah bersuami atau pun yang masih gadis.

Romo Marly Knaofmone adalah sekretaris pribadi Uskup Dominikus Saku di Keuskupan Atambua yang sudah berjalan beberapa tahun dan Marly tidak pernah digantikan lantaran merasa superior dari imam-imam lain di Keuskupan Atambua.

Foto: Romo Marly Knaofmone tidak merasa berdosa dan tidak bersalah setelah menghamili Dessy Ulu dan tidak bertanggung jawab. Tapi, sejak tahun 2017 setelah Dessy Ulu positif hamil dan melahirkan, Romo Marly Knaofmone masih tetap memberi pelayanan sakramen dan memimpin misa di Gereja melayani umat Katolik di Keuskupan Atambua. Bahkan, Romo Marly masih memimpin Misa Malam Natal di tahun 2025.

Kenakalan yang telah dilakukan Marly Knaofmone menghamili Dessy Ulu dan tidak mau bertanggung jawab, telah menampar wajah dan mempermalukan harga diri dan telah menurunkan derajat Dominikus Saku sebagai Imam Kepala di Keuskupan Atambua.

Wibawa Uskup Dominikus Saku yang selama ini mengistimewakan Marly Knaofmone dari pastor-pastor lain di Keuskupan Atambua, telah jatuh dan menjadi kotor. Moralitas, etika dan kinerja keduanya telah rusak. Umat Katolik di Keuskupan Atambua sangat terluka.

Dominikus Saku dipaksa harus evaluasi diri supaya tahu diri, sadar diri, dan harus punya rasa malu, karena selama ini kinerja kerjanya sangat bobrok selama memimpin Keuskupan Atambua.

Semenjak Dominikus Saku ditahbis menjadi Uskup Atambua menggantikan mendiang Emeritus Uskup Anton Pain Ratu SVD pada 21 September 2007, banyak kebijakan dan kinerjanya lebih memihak pastor-pastor dari TTU yang menjadi kawanan komplotannya untuk menguasai Kabupaten Belu sebagai sentral atau pusat Keuskupan Atambua di Kota Atambua.

Sementara, pastor-pastor asal Belu dan Malaka ditugaskan ke tempat-tempat sepi dan kering kerontang. Termasuk pastor-pastor kritis dan pemberani yang melawannya, pasti diancam dan/atau dipindahkan ke luar dari Keuskupan Atambua dengan alasan pembenahan dalam kaul ketaatan terhadap atasan.

Padahal, antara Marly Knaofmone dan Dominikus Saku dengan beberapa pastor lainnya, menempati Istana Keuskupan Atambua di Lalian Tolu, Nenuk-Lalian (Nela) untuk tidur dan beraktivitas bersama melayani umat Katolik di sana.

Tapi, kenakalan Marly Knaofmone seakan-akan mendapat dukungan penuh dari Dominikus Saku, lantaran kejadian itu terjadi tahun 2017 sampai 2025 saat berita ini dikerjakan, Dominikus Saku tidak pernah tahu dan pura-pura tuli atas kasus amoral tersebut.

Foto: Marly Knaofmone hanya habiskan waktu dengan motornya ikut balapan dan lupa tanggung jawabnya sebagai ayah biologis dari Kevin Mario.

Diberi nama Kevin Mario dan Marly Knaofmone Tidak Mau Ditemui

Anak pertama berjenis laki-laki yang telah dilahirkan Dessy Ulu pada tahun 2017 di RSUD Monsinyur Gabriel Manek SVD Atambua, diberi nama Kevin Mario oleh Romo Marly Knaofmone.

Huruf ‘K’ dari nama Kevin itu artinya ‘Knaofmone’. Sedangkan huruf ‘M’ dari nama Mario itu artinya ‘Marly’.

Jadi, diberi nama Kevin Mario untuk mengingatkan bahwa ayah biologisnya adalah Marly Knaofmone seorang pastor projo dan lelaki nakal asal Noemuti, TTU, yang tidak mau bertanggung jawab.

Foto: Kevin Mario, anaknya Marly Knaofmone sudah sekolah SD Kelas 1 di Atambua pada tahun 2024.

“Malam itu saat adik kami Dessy Ulu mau melahirkan di RSUD Monsinyur Gabriel Manek SVD Atambua, kami telpon Marly Knaofmone berulang kali untuk datang saat itu, tapi telpon kami tidak langsung direspon. Dia (Marly Knaofmone) baru datang setelah adik kami Dessy Ulu melahirkan, dan itu datangnya sudah larut malam karena sudah sepi di rumah sakit,” cerita Erwinda Ulu, kakak kandung Dessy Ulu dengan nada emosional, di awal tahun 2019.

“Bagi kami, dia (Marly) laki-laki yang paling terlalu kurang ajar sekali karena tidak mau bertanggung jawab dengan cara mengundurkan diri dari pastor. Karena dia telah berjanji sama adik kami Dessy Ulu bahwa dia mau lepas jubah, tapi tidak terlaksana. Kami ditipu oleh dia, laki-laki Dawan yang tidak tahu diri sama sekali,” tambah Erwinda Ulu, dengan emosi yang mulai meledak saat itu.

“Dia sendiri yang telah berjanji kepada kami OMK Paroki Katedral Atambua, bahwa dia mau bertanggung jawab atas hidup dan masa depan adik kami Dessy Ulu dan Kevin, anaknya. Tapi, apa yang kami dapat? Dia malah berleha-leha dan terus menggoda perempuan-perempuan lain di dunia nyata dan dunia maya lewat sosial media,” tambah beberapa anggota OMK Paroki Katedral Atambua yang ditemui saat itu dan meminta nama tidak boleh ditulis.

Foto: Dessy Ulu gendong Kevin Mario, anaknya setelah melahirkan di RSUD Monsinyur Gabriel Manek SVD Atambua pada tahun 2017.

Sampai saat berita ini dikerjakan, Romo Marly Knaofmone, Pr -- sebagai pelaku kejahatan yang telah menghamili Dessy Ulu dan telah melahirkan anaknya, tidak mau ditemui oleh tim awak media. Marly selalu memilih menghindar dari tim awak media.

Tiap kali tim awak media ke Istana Keuskupan Atambua, tidak berhasil ditemui. Juga nomor telepon yang diperoleh tim awak media, tidak aktif saat dihubungi.

Awal Beri Uang Satu Juta Rupiah, Setelah Itu Tidak Lagi

Menurut pengakuan Erwinda Ulu sebagai kakak kandung Dessy Ulu, awalnya Marly Knaofmone telah berjanji di hadapannya saat masih di RSUD Monsinyur Gabriel Manek SVD Atambua, bahwa Marly Knaofmone menyatakan bersedia memberi uang satu juta rupiah tiap bulan kepada Dessy Ulu untuk membeli kebutuhannya dan anaknya Kevin. Tapi, janji itu hanya bualan manis penuh tipu daya dari Marly.

“Dia janji mau beri uang satu juta rupiah tiap bulan untuk adik kami Dessy beli susu dan kebutuhan lainnya untuk Kevin, karena saat itu Dessy baru melahirkan di rumah sakit. Tapi, itu hanya omong kosong. Penipu dia. Laki-laki laknat dia. Hanya berjalan beberapa bulan saja sejak Dessy melahirkan dan pertengahan tahun 2019. Setelah itu tidak lagi,” lanjut Erwinda Ulu dengan menahan amarah.

Foto: Erwinda Ulu, kakak kandung Dessy Ulu yang telah dihamili Marly Knaofmone.

“Karena tidak lagi memberi uang satu juta tiap bulan seperti yang telah dijanjikan Marly Knaofmone kepada Dessy dan anaknya Kevin, dengan terpaksa kami menyuruh adik kami tidak usah berharap lagi karena dia laki-laki yang paling kurang ajar, karena tidak pernah terdidik oleh orangtuanya dan oleh atasannya di Keuskupan Atambua,” umpat Erwinda Ulu, emosional saat itu.

Romo Marly Knaofmone Memaksa Dessy Ulu Gugurkan Kandungan

Pengakuan lain datang dengan sangat mengejutkan yang diceritakan beberapa Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Katedral Santa Maria Immaculata Atambua bahwa setelah ketahuan Dessy Ulu hamil, Marly Knaofmone sempat membujuk dan memaksa Dessy Ulu untuk menggugurkan kandungannya, lantaran Marly Knaofmone masih ingin menjadi pastor dan tidak mau mempermalukan keluarga besarnya di Noemuti.

Tetapi, paksaan dari Romo Marly Knaofmone untuk menggugurkan kandungannya, tidak dilaksanakan Dessy Ulu lantaran orangtuanya dan Erwinda Ulu sebagai kakak kandung, tidak memberi izin dan meminta Dessy tetap menjaga janin dalam kandungannya itu dengan sebaik-baiknya.

Foto: Dessy Ulu sementara hamil di tahun 2017 atas ulah Marly Knaofmone dan Dessy masih aktif OMK Paroki Katedral Atambua. Ia foto bersama teman-teman OMK-nya di Gereja Katedral Atambua. Zoom dekat supaya bisa melihat perutnya Dessy membesar karena dihamili Marly.

“Kami tahu karena Dessy Ulu adalah anggota OMK Paroki Katedral Atambua, dan Dessy pasti cerita ke kami dan kami saat itu bilang ‘gatal sekali dan jahat sekali minta Dessy gugurkan kandungannya. Binatang saja sayang anaknya, ini malah ajak orang untuk menjadi penjahat. Pastor macam apa itu Marly Knaofmone?’,” tanya mereka dalam nada amarah, sembari menceritakan ulang apa yang pernah diceritakan Dessy Ulu saat itu.

“Sebagian dari kami umat Katolik di Toro dan Katedral sudah tahu saat Dessy Ulu hamil. Di Toro sini, malah lebih heboh saat itu. Mamanya Dessy marah sekali saat tahu anaknya dihamili Marly Knaofmone. Bahkan, saudara-saudaranya dari Marae sana saat itu, sudah nekad niat jahat sama Marly karena Marly paksa Dessy untuk gugurkan kandungan. Keluarga siapa dan saudara siapa yang tidak marah ketika adiknya dihamili dan dipaksa untuk gugurkan kandungan?” tanya beberapa umat Katolik di Toro yang saat itu ditemui dan meminta tidak boleh menuliskan nama mereka.

Dua Pastor Projo Hambat Keluarga Dessy Ulu Tidak Boleh Lapor Polisi

Terkuak kabar bahwa dua pastor projo yang bernama Pastor Yoris Samuel Giri dan Pastor Agustinus Berek (bertugas di Noemuti) ikut melarang dan/atau ikut menghambat keluarga besar Dessy Ulu, supaya tidak boleh melapor ke polisi (Polres Belu) terkait pemaksaan Marly Knaofmone untuk menggugurkan kandungannya.

Hal itu memantik emosi keluarga besar Dessy Ulu dari Marae dan di dalam Kota Atambua, yang saat itu tidak bisa lagi terkontrol setelah mengetahui bahwa Marly Knaofmone memaksa Dessy Ulu untuk menggugurkan kandungannya.

“Sebenarnya malam itu semua keluarga besar sangat marah dan mau pergi mencari Marly Knaofmone di Istana Lalian Tolu dan setelah itu mau melapor ke Polres Belu karena tindak kejahatan untuk memaksa adik kami Dessy Ulu untuk menggugurkan kandungannya. Keluarga besar marahnya di situ, tidak terima. Dan dua pastor projo itu ikut menghambat dan keluarga marah mereka saat itu. Tapi, karena Mamanya bilang ‘kita tunggu itu Marly datang dulu dan Mama tanya dia, kalau dia tidak mengaku, baru kalian ambil sikap’,” cerita beberapa guru SMAK Suria Atambua dan beberapa guru SMPK Don Bosco Atambua, yang ditemui tahun 2020 dan 2021, dengan meminta tidak boleh menuliskan identitas mereka.

Foto: Mamanya Dessy Ulu foto bersama cucunya yang bernama Kevin Mario di rumahnya di Toro, Kota Atambua.

Terkait penghambatan oleh dua pastor itu, juga dibenarkan oleh Erwinda Ulu dan beberapa sepupunya Dessy Ulu dan beberapa OMK setelah dua hari Dessy Ulu melahirkan.

Kedua pastor ini tidak bisa ditemui saat tim awak media mencari keduanya di tempat tugas masing-masing.

Kronologi Berdasarkan Pengakuan Keluarga Korban

Berdasarkan pengakuan korban dan keluarga korban dari kronologi kasus yang dikumpulkan oleh tim media ini beberapa tahun lalu dari sumber-sumber terpercaya, menyebutkan bahwa relasi lewat komunikasi intens dan khusus yang dibuat Romo Marly Knaofmone, Pr dengan Dessy Ulu telah terjalin sebelum Dessy Ulu menamatkan pendidikan menengah pada salah satu SMA di Kota Atambua.

Saat itu, Dessy Ulu sudah bergabung dalam wadah Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Katedral Santa Maria Immaculata Atambua. Marly pun saat itu, begitu gigih untuk mendapatkan Dessy Ulu.

Foto: Dessy Ulu dengan anaknya, Kevin Mario.

Selepas Dessy Ulu menamatkan SMA-nya di Kota Atambua, hubungan kedekatan itu terus dilakukan Marly Knaofmone dengan sering mengajak Dessy Ulu bertemu di berbagai lokasi di Kota Atambua hingga di luar kota Atambua, dengan menggunakan motor.

Setiap kali mengajak bertemu seorang diri, Dessy Ulu selalu menepati perkataan Marly Knaofmone untuk tidak boleh berinteraksi dengan laki-laki lain, selain hanya dengan Marly. Larangan itu ditaati Dessy.

Komunikasi keduanya berjalan lancar. Marly terus memantau aktivitas Dessy Ulu di luar dan di dalam rumah. Tapi, lama kelamaan, Dessy Ulu mulai merasa gerah karena dunianya tidak sebebas dulu.

Malapetaka itu terjadi saat semua OMK berkumpul di Emaus, Nela, pada tahun 2017 untuk mengikuti kegiatan ret-ret.

Pada hari pertama selepas kegiatan, sekitar jam 11 malam, Romo Marly Knaofmone datang menjemput Dessy Ulu secara paksa dan membawanya ke kamar pribadinya di Istana Keuskupan Lalian Tolu-Nela. Setiba di dalam kamar, Marly langsung matikan lampu kamar, sehingga terasa gelap semua.

Setelah lampu kamar di matikan dan semua terasa gelap, Marly mulai melucuti celana dalam Dessy. Juga membuka semua pakaiannya hingga telanjang. Aksi pemerkosaan pun terjadi saat itu di dalam kamar Marly.

“Saya awalnya tidak mau di bawa ke kamarnya Romo Marly Knaofmone di Istana Lalian Tolu-Nela. Tapi, karena saya ditarik paksa dan saya dimarah-marah oleh Marly, dengan berat hati saya turuti,” cerita Dessy Ulu sebagai korban perusakan harkat dan martabat oleh kebejatan Marly, yang diulangi ceritanya oleh Erwinda Ulu sebagai kakak kandungnya.

“Setelah lampu kamar padam dan gelap, Marly langsung mencumbu saya dengan sangat napsu dan napasnya naik-turun dan celana dalam saya ditarik paksa olehnya. Saya ditindih di atas lantai di dalam kamar itu. Lalu saya di papah ke atas kasur dan tempat tidur. Marly masih terus mencumbu saya dengan paksa. Air mata saya sempat jatuh, tapi apa daya saya di malam itu?”, tangis Dessy Ulu menceritakan kisah kelamnya itu.

Malam itu, selepas Marly Knaofmone menjatuhkan lelehan sperma ke dalam kelamin Dessy Ulu, saat itu Dessy dalam keadaan masa subur.

Juga, Marly Knaofmone adalah orang pertama yang mengambil keperawanan Dessy secara paksa di malam itu.

“Saya bilang saya dalam keadaan masa subur. Tapi Marly bilang ‘Dessy, tidak apa-apa, nanti saya bertanggung jawab kalau kamu hamil’. Saya juga bilang saya masih perawan. Tidak ada laki-laki lain yang sentuh tubuh saya, hanya kamu saja,” kata Erwinda Ulu dan beberapa OMK menirukan ulang ucapan Desi Ulu, dengan emosi saat itu.

Foto: Kevin Ulu, anak pertama Dessy Ulu sudah sekolah SD Kelas 1 di salah satu SD di Kota Atambua.

“Selama saya mengandung dan saya melahirkan Kevin Mario, tidak ada perhatian sama sekali dari Marly Knaofmone,” ceritanya.

“Sekitar jam 4 subuh, Marly bawa saya cepat-cepat kembali ke rumah Emaus untuk tidur di kamar saya dengan teman-teman OMK, karena kami ada kegiatan OMK”.

Saat itu, Marly Knaofmone sempat bilang lagi ke saya “Dessy, jangan kamu cerita ke siapa-siapa tentang hubungan seks kita tadi di kamar saya”, dan saya sempat menangis di kamar. Beberapa teman terbangun dan tanya “Kamu kenapa menangis, Dessy?”. Dessy hanya diam saat itu.

Setelah kegiatan OMK di rumah ret-ret Emaus selesai, semua OMK pulang ke rumah masing-masing.

Tapi, bagi Dessy Ulu, pulang dalam keadaan terluka. Batinnya tersiksa karena dipaksa Marly Knaofmone berhubungan seks di kamarnya yang gelap di Istana Lalian Tolu, Nela.

Seketika itu juga, gedung tembok Istana Lalian Tolu, Nela, telah berubah wajah menjadi penjahat kelamin, yang direproduksi oleh kumpulan laki-laki laknat di sana.

Barang-barang kudus yang ada di sana, menjadi kotor karena ulah kegatalan Marly Knaofmone.

Reaksi Mamanya Setelah Tahu Dessy Ulu Hamil

Seperti tersambar petir, pengakuan Dessy Ulu kepada Mamanya bahwa ia telah hamil karena dipaksa berhubungan seks oleh Marly Knaofmone di saat ia lagi masa subur sehabis datang haid, membuat hati dan perasaan Mamanya sangat terluka mendengar pengakuan anaknya itu.

“Mama saya menangis. Sedih sekali. Sangat terluka sekali Mama saya. Mama bilang ‘Minta itu Marly Knaofmone tanggung jawab, suruh dia keluar dari pastor, jangan hanya mau hamili anak saya dan tidak mau menikahi anak saya’. Sakit sekali perasaan Mama saya sampai saat itu, lukanya belum sembuh,” cerita Erwinda Ulu dan beberapa OMK dan tetangga di Toro, yang ditemui lagi pada tahun 2023.

Menurut pengakuan Erwinda Ulu bahwa Romo Marly Knaofmone sempat datang bertemu Mamanya di rumah mereka di Toro dekat Gua Maria Toro, dan Marly bersikeras bahwa ia masih mau jadi pastor dan tidak boleh bocorkan kasusnya ke publik.

Foto: Pastor Marly Knaofmone asal Noemuti memiliki perilaku buruk seperti hewan karena tidak bertanggung jawab setelah menghamili Dessy Ulu.

“Mama saya bilang begini ‘Kamu kurang ajar, ya Marly. Anak saya sudah hamil. Kamu masih mau jadi pastor? Percuma kau pakai itu jubah dan kau pimpin misa dan kotbah tentang banyak hal, tapi kau pelaku kejahatan. Menjijikkan sekali kau, Marly’. Kami dengar semua amarah Mama saya dan Marly diam,”.

Bahkan, Alo Tubani sebagai iparnya Dessy Ulu pun sangat marah dengan perlakuan dan sikap dan perilaku Marly Knaofmone yang tidak mau bertanggung jawab dan mengundurkan diri dari pastor untuk menikahi adik iparnya itu.

“Ipar kami, Alo Tubani saja marah sekali dengan perlakuan kurang ajar Marly Knaofmone terhadap adik kami”, tambah beberapa tetangga di kompleks Gua Maria Toro, Atambua.

“Bapaknya Dessy Ulu sudah lama meninggal dunia. Dengan kasus begini, Mamanya pasti sakit hati dan sangat terpukul sekali,” lanjut mereka.

Pengakuan Korban Lain Angkat Suara Pernah Digoda Marly Knaofmone

Gatal yang tidak terkontrol, melukai banyak pihak. Salah satunya yang diceritakan beberapa korban yang mengaku bahwa mereka pernah digoda oleh Romo Marly Knaofmone, Pr -- lewat sosial media dan dunia nyata secara langsung untuk menggauli mereka.

Di temui di tempat terpisah baru-baru ini, dan juga melalui sambungan percakapan media sosial Facebook dan Instagram dan email, beberapa korban dengan inisial S, P, I, U, W, TW, M, A, V, K, B, O, E, D, menceritakan pengalaman traumatik mereka ketika bersinggungan dengan Marly Knaofmone baik secara langsung maupun melalui sosia media Facebook dan Instagram bahwa perilaku dan sikap Marly Knaofmone telah melebihi hewan.

“Aku pernah digoda dan diajak hubungan intim oleh Marly lewat inbox FB. Aku cerita ke suamiku dan suamiku marah bangat. Suamiku blasteran Ambon dan Bajawa, Flores. Setelah aku cerita begitu, esoknya suamiku dan beberapa saudaranya ke Atambua untuk cari Marly. Tapi, dia-nya kabur. Nggak berani ketemu. Kurang ajar dia, dia kira aku ini perempuan apaan? Gatal berlebihan,” cerita para korban.

“Tiap kali ketemu dia secara langsung, pasti bahasa tubuhnya dan kontak matanya itu seakan-akan menginginkan tubuh kami. Kami perempuan yang tidak sembarangan. Kami punya pasangan. Dia kelihatan tampak luarnya baik dan sopan, nyatanya penjahat kelamin yang sangat gatal”, ketus beberapa korban.

Bahkan, para korban itu meminta kepada Dominikus Saku untuk lebih peka dalam mengontrol pastor-pastor yang berkarya dan menetap di Keuskupan Atambua, supaya tidak ada lagi kasus yang dialami mereka.

Foto: Romo Marly Knaofmone hanya habiskan waktu dengan jalan-jalan menggunakan motornya untuk terus menggoda perempuan-perempuan di dunia nyata dan dunia maya melalui sosial media supaya dapat mangsa baru untuk memenuhi kegatalannya.

“Kami itu sudah pada titik jenuh. Sebenarnya Dominikus Saku itu kerjanya apa saja, sih? Jangan-jangan beliau ini juga punya perempuan simpanan yang belum diketahui, sehingga tidak mau mengontrol pastor-pastor di Keuskupan Atambua?” pinta mereka.

Para korban ini mengajak semua perempuan yang pernah digoda oleh para pastor untuk bersuara di media sosial dan pers supaya tidak ada lagi korban.

“Jangan mau ikuti mereka untuk datang temui dan lapor Dominikus Saku yang adalah atasan mereka, tidak akan ditindak lanjuti. Kami sudah pernah melapor beberapa tahun lalu, tapi sampai saat ini laporan kami mubasir. Percuma. Lebih baik langsung cerita ke para wartawan atau di media sosial supaya heboh sekalian,” pinta mereka sembari mengajak kaum perempuan untuk harus berani melawan penjahat kelamin berkedok jubah.

“Jaga anak gadis kalian. Pantau mereka. Bila perlu tidak usah mereka ikut kegiatan gereja, karena potensi dilecehkan dan digoda dan dibuat tidak nyaman itu sangat terbuka besar. Intinya harus berani melawan dan bersuara di ruang publik supaya kegatalan kaum berjubah itu tidak menjadi-jadi,” pesan para korban ini tegas.

“Dia (Marly) pelihara beberapa istri pengusaha di Belu, Malaka, TTU dan Kupang untuk melobi proyek ke kepala daerah-kepala daerah itu untuk dikasih ke istri-istri pengusaha sebagai barter, sebagai balas jasa karena sudah ditiduri gratis, karena dia menjabat Sekretaris Keuskupan Atambua dan anak emas-nya Dominikus Saku. Bahkan dia bersama beberapa pastor asal TTU di Atambua pelihara beberapa istri pengusaha di Sulawesi, Sumatera, Kalimantan, Bali, Jakarta, Jawa, Papua, dan Timor Leste untuk bisnis proyek,” tambah mereka, menjelaskan detail.

Mengapa Kami Beritakan Kasus Ini Terlambat

Pertama, Sebenarnya kasus kebejatan Marly Knaofmone menghamili Dessy Ulu, sudah dapat kami beritakan lebih awal. Tetapi karena kami terpisah jarak dan tempat masing-masing, menyebabkan kami belum memberitakannya saat itu di tahun 2018.

Awal mula beberapa rekan kami pulang berlibur ke Timor Barat dan Timor Leste di akhir tahun 2017.

Baru kemudian di tahun 2018, beberapa rekan kami yang keluarganya aktif di OMK dan pelayanan gereja Katolik di sana, mengabarkan kepada kami masing-masing lewat email tentang kasus kebejatan Marly Knaofmone menghamili Dessy Ulu.

Sebagian dari kami tersebar di Indonesia (di Flores, Kupang, TTS, Sumba, Sulawesi, Sumatera, Bekasi, Kalimantan) di Eropa, Amerika dan Australia.

Kami semua terkoneksi lewat surat elektronik atau email masing-masing untuk membahas kasus yang bagi kami sangat penting. Itu sudah menjadi prinsip kami.

Pemimpin redaksi dan sebagian personil media ini bekerja dan menetap di luar negeri.

Juga beberapa tetangga Dessy Ulu di Toro, di Marae dan umat Katedral Atambua yang mau menceritakan kasus itu kepada kami.

Kami kemudian berembuk lagi dan bahas bersama melalui email. Kami kumpulkan semua informasi dan data dan foto-foto dari sumber-sumber terpercaya.

Kedua, kami juga alami kesulitan dan penolakan saat kami mencari dan meminta nomor telepon Imam Kepala Dominikus Saku kepada beberapa pastor dan beberapa umat dan beberapa rekan wartawan, mereka selalu bilang bahwa mereka tidak punya nomor kontak.

Kami pernah menelpon beberapa kali ke kantor Pusat Pastoral Keuskupan Atambua di Lalian Tolu, dengan nomor telepon 0398-2325757 / 232374100, yang kami dapat dan tidak pernah ada petugas yang mau menjawab panggilan kami.

Kami pernah datangi langsung beberapa kali dari tahun 2019 sampai Oktober 2025 ke Lalian Tolu untuk bertemu dan wawancara dengan Dominikus Saku, itu pun tidak berhasil. Selalu dibilang bahwa Dominikus Saku lagi sibuk, dan/atau bahwa Dominikus Saku tidak berada di tempat. Kami datang secara acak dan secara tiba-tiba.

“Uskup Domi Saku tidak ada di tempat. Katanya lagi keluar. Tidak tahu keluar ke mana, kami tidak tahu,” kata tiga perempuan dan seorang lelaki di awal bulan Oktober 2025, pukul 11.45 WITA, di Lalian Tolu.

Kami pun alami kesulitan untuk mendapat nomor kontak HP-nya Dominikus Saku. Bayangkan saja betapa sulitnya kami dipersulit oleh mereka. Padahal, Dominikus Saku adalah pejabat publik, bukan raja yang harus takut saat dicari oleh pers.

Foto: Romo Marly Knaofmone memiliki dua akun Facebook dan memiliki akun sosial media lainnya untuk menggoda perempuan-perempuan lain setelah tidak puas menghamili Dessy Ulu.

Ketiga, email milik Dominikus Saku yang kami peroleh, sudah kami kirimkan pertanyaan wawancara sejak awal tahun 2019 dan hingga saat berita ini dikerjakan, tidak pernah kami dapatkan balasan darinya.

Keempat, setelah media lokal di Flores, NTT, memberitakan kasus pelecehan yang dialami seorang mahasiswi Unika Santu Paulus Ruteng dan pelakunya adalah seorang imam projo yang bertugas di kampus tersebut, memantik kami untuk kembali berembuk.

Kami sepakat bahwa kalau kasus ini tidak segera kami publikasikan ke ruang publik, Marly Knaofmone yang adalah pelaku kejahatan pasti makin berkeliaran terus untuk mencari mangsa baru.

Kelima, banyak pastor yang berkarya di luar Keuskupan Atambua, mendesak kami untuk secepatnya memberitakan kasus Marly Knaofmone menghamili Dessy Ulu, karena selama ini Marly Knaofmone diperlakukan sangat istimewa oleh Dominikus Saku.

Menurut mereka, sangat tidak adil karena ketika kasus pastor Adi Ampolo yang terjadi di SMK Bitauni, TTU, di tahun 2019 dan sudah dikenakan sanksi dan menjadi viral.

“Mengapa Marly Knaofmone diistimewakan oleh Dominikus Saku? Beritakan sudah kasusnya supaya publik tahu. Karena kalian sudah berusaha cari nomor telepon Domi Saku dengan berbagai cara, tapi banyak pastor di sana tidak ikut membantu. Kalau nanti mereka mau klarifikasi, kan, ada email redaksi, walaupun pemimpin redaksi dan sebagian personil bekerja dan menetap di luar negeri,” begitulah desakan mereka.

“Termasuk dua pastor projo di sana yang ikut melarang Dessy Ulu dan keluarga besarnya supaya tidak boleh melapor ke polisi saat Marly memaksa Dessy untuk gugurkan kandungan, biar mereka klarifikasi sekalian. Karena kalian sudah berusaha mencari langsung kedua pastor itu untuk wawancara, selalu tidak berhasil. Kenapa kedua pastor itu menghindar? Kenapa Dominikus Saku ikut menghindar? Kenapa mereka tidak mau beri nomor HP Dominikus Saku ke wartawan untuk konfirmasi? Itu patut dipertanyakan. Karena Domininus Saku adalah Uskup Keuskupan Atambua dan pejabat publik. Itu kesalahan mereka. Bukan kesalahan kalian,” tegas mereka.

“Bahkan Marly Knaofmone sejak kasus Dessy Ulu hamil di tahun 2017 sampai saat ini, tidak pernah jujur. Itu menjijikkan sekali. Pimpin Misa seakan-akan tidak berdosa besar, padahal penjahat kelamin. Misa Malam Natal dan Natal 2025, dia masih pimpin misa di gereja. Dia juga sering sindir pastor-pastor lain, padahal dia saja lebih buruk dari orang lain. Dia tidak pernah menjaga perasaan umat Katolik di Keuskupan Atambua. Terlebih dia tidak pernah jaga perasaan Dessy Ulu dan Kevin sebagai anaknya dan keluarga besarnya Dessy Ulu. Sangat menjijikkan perilaku Marly Knaofmone. Juga kinerja dan perilaku Dominikus Saku sangat bobrok dan tidak adil selama memimpin Keuskupan Atambua,” tambah mereka menjelaskan.

Keuskupan Atambua Tidak Beri Pernyataan Apa Pun

Vikaris Jenderal Keuskupan Atambua (Vikjen KA), Pastor Vincentius Wun SVD telah diwawancarai pada Senin (22/12/2025) melalui pesan WhatsApp. Namun, Keuskupan Atambua memilih tidak memberikan pernyataan apa pun.

Terlihat oleh redaksi bahwa pesan berwarna coklat bergaris dua berupa pertanyaan wawancara telah diterima dan telah dibaca oleh Pastor Vincentius Wun SVD yang adalah Vikaris Jenderal Keuskupan Atambua.

Sampai berita ini diterbitkan, Jumat (26/12/2025), Vikjen KA bernama Pastor Vincentius Wun SVD, tidak memberikan pernyataan apa pun. ***/TIM

Bagikan
Tinggalkan komentar
Ujo
28 Desember 2025 - 21:03
Lebih baik menjadi suami yang setia daripada imam yang hidup ganda. Lebih baik menjadi manusia yang jujur daripada simbol kesucian yang palsu.
Pejantan Tangguh
31 Desember 2025 - 05:35
Enaknya dia entot wanita bukan istrinya, gratis pula. Begitu wanitanya hamil, jahat sekali dia berniat membunuh janin tanpa dosa. Hewankah dia?
Berita Terkait
Keuskupan Atambua Dinilai Lebih Menjaga Nama Baik Institusi daripada Berpihak pada Korban dan Anaknya
02 Januari 2026 - 04:48 Hukum dan Kriminal
Keuskupan Atambua Dinilai Lebih Menjaga Nama Baik Institusi daripada Berpihak pada Korban dan Anaknya

Uskup Saku bermain dengan Kevin, anaknya Marly Knaofmone di Istana Keuskupan Atambua di Lalian-Tolu. Tapi, dalam Pernyataan dan Klarifikasi yang

Lebih Detail
Keuskupan Atambua Didesak Lindungi Korban, Hak Asuh Anak Dipersoalkan Karena Diberikan kepada Pastor
30 Desember 2025 - 00:42 Hukum dan Kriminal
Keuskupan Atambua Didesak Lindungi Korban, Hak Asuh Anak Dipersoalkan Karena Diberikan kepada Pastor

Keterangan: Uskup Dominikus Saku, Pr sebagai Uskup Keuskupan Atambua (bagian kiri) dan Romo Marly Knaofmone, Pr (bagian kakan) sebagai pelaku

Lebih Detail
Netizen Menuding: Hery Lau Cs Dalang Kematian Frans Asten Kepala BPBD Belu?
23 Desember 2025 - 03:31 Hukum dan Kriminal
Netizen Menuding: Hery Lau Cs Dalang Kematian Frans Asten Kepala BPBD Belu?

Keterangan foto: Heriberthus Lau atau Hery Lau adalah sopir pribadi Kepala BPBD Belu dan orang pertama yang mencari almarhum Frans

Lebih Detail