Keuskupan Atambua Dinilai Lebih Menjaga Nama Baik Institusi daripada Berpihak pada Korban dan Anaknya

Uskup Saku bermain dengan Kevin, anaknya Marly Knaofmone di Istana Keuskupan Atambua di Lalian-Tolu. Tapi, dalam Pernyataan dan Klarifikasi yang dibacakan Vikaris Jenderal Keuskupan Atambua, Pastor Vincentius Wun SVD bahwa kasus Marly hamili DU baru diketahui pihaknya setelah adanya pemberitaan media massa dan viral di sosial media saat itu pada Jumat (26/12/2025). Foto ini membuktikan bahwa Uskup Saku dan Pihak Keuskupan Atambua sudah tahu bahwa Kevin adalah anaknya Marly Knaofmone. Karena Kevin dan Mamanya, DU, sering diajak makan di sana juga sering ikut kegiatan di sana.

 

LEBAHTIMOR.COM--Keuskupan Atambua hanya memberi sanksi suspensi kepada Romo Marly Knaofmone, Pr pada Selasa (30/12/2025) melalui pernyataan dan klarifikasi yang telah dibacakan Vikaris Jenderal Keuskupan Atambua (Vikjen KA), Pastor Vincentius Wun SVD melalui kanal youtube milik komsos setempat. Tapi, sanksi suspensi itu dinilai banyak pihak tidak memihak korban dan anaknya, lantaran Keuskupan Atambua hanya ingin menyelamatkan nama baik institusi serta tidak punya niat dan tanggung jawab moralitas untuk menuntaskan kasus amoral itu sampai tuntas dengan mencopot Knaofmone dari jabatannya sebagai pastor.

Parahnya, klarifikasi dan pernyataan itu dinilai banyak pihak hanya semacam pelemparan tanggung jawab karena telah viral di media sosial setelah diberitakan media massa pada Jumat (26/12/2025). Itu menandakan bahwa Keuskupan Atambua dibawah kepemimpinan Uskup Saku tidak becus menyelesaikan semua kasus dan/atau masalah yang pernah terjadi dan juga kasus amoral yang dilakukan Marly Knaofmone yang adalah pelaku kejahatan dan menjabat sekretaris pribadi Uskup Domi Saku yang sama-sama berasal dari etnis Dawan, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). 

"Korban dan anaknya tidak mendapatkan apa-apa dari Keuskupan Atambua dalam kasus itu. Uskup Saku menjaga wibawa dan nama baiknya karena pelaku itu sekretaris pribadinya dan sama-sama dari TTU. Padahal yang dituntut publik adalah pemecatan Marly Knaofmone dari jabatannya sebagai pastor dan menjadi awam sipil. Kelihatan bangat tuh, Uskup Saku lebih memihak pelaku," kata Ahli Psikologi dan Mental, Dr. Nurhalimah, yang ditemui langsung di kediamannya di Malaysia, Kamis (1/1/2026).

Uskup Saku Dinilai Pembohong Besar

Menurutnya, dalam pernyataan dan klarifikasi kasus amoral itu, seharusnya yang membacakan pernyataan dan klarifikasi kepada publik dan umat Katolik di Keuskupan Atambua adalah Uskup Saku, bukan Vikaris Jenderal Keuskupan Atambua (Vikjen KA) Pastor Vincentius Wun SVD. Sebab, pelaku kejahatan dan akar masalahnya ada pada Marly Knaofmone yang adalah sekretaris pribadinya. Juga pihak Keuskupan Atambua dinilai tidak jujur bahwa pihaknya baru mengetahui kasus itu setelah diberitakan media massa dan viral di media sosial dalam point pertama dalam pernyataan itu.

"Publik (dan umat Katolik di Keuskupan Atambua) harus kritis dan peka dan jeli melihat kasus itu. Itu kasus amoral dan pidana. Pelaku adalah pastor dan warga negara Indonesia. Dua-duanya harus dikenakan. Kenapa? Karena DU telah melahirkan anaknya dan terjadi ajakan jahat untuk gugurkan kandungannya. Itu telah melanggar etika, moral, hukum pidana, adat istiadat, budaya, dan lain sebagainya. Itu satu kesatuan," katanya menjelaskan.

Foto: Uskup Saku.

"Tutup tahun 2025 tidak jujur dalam point pertama di klarifikasi. Buka tahun baru 2026 tidak jujur. Artinya, bilamana pelaku dipecat dari jabatannya sebagai pastor, itu baru betul, itu baru menyelesaikan akar masalah. Korban dan anaknya baru mendapatkan keadilan dan kebenaran dari kasus itu. Jika tidak, Uskup Saku adalah pembohong besar di daratan Timor dan Indonesia," kata Tokoh Wanita Muslim Dunia yang fasih 10 bahasa asing di dunia ini.

Masih menurutnya, pernyataan dan klarifikasi yang telah diumumkan oleh Vikjen KA bahwa Keuskupan Atambua baru mengetahui kasus itu setelah ada pemberitaan media massa dan viral di media sosial adalah sebuah kebohongan besar yang telah dirancang oleh Uskup Saku dan komplotannya untuk menjaga wibawa dan nama baiknya sebagai pemimpin spiritualitas di sana.

"Itu cara licik dari Uskup Saku dan komplotannya. Tidak masuk secara logika (2017 kasusnya) setelah itu viral (Desember 2025), Keuskupan Atambua terkejut dan pura-pura baru tahu, ada kasus amoral (kasus Marly). Kalian (umat Katolik di sana) masih mau percaya Uskup Saku? Dia (Uskup Saku) tidak menyelesaikan masalah, tapi menjaga wibawanya dan menjaga nama baik institusi di sana. Siapa yang dikorbankan dari kasus itu? Ya, DU dan anaknya dan semua keluarga besarnya. Siapa yang diuntungkan dari kasus itu? Ya, Marly dan Uskup Saku dan komplotannya dan institusi. Apakah menyelesaikan akar masalah? Tidak, kan? Lalu, siapa itu Uskup Saku? Seorang pembohong yang tidak pernah jujur selama hidupnya, maaf ya, aku harus bicara blak-blakan," tegasnya, yang adalah blasteran Indonesia dan Israel dan Arab, yang getol di forum dunia internasional itu.

"Kita bahas kasus. Makanya kita harus bicara kejujuran dan kebenaran. Di dalamnya ada moralitas, etika, hukum dan lain sebagainya. Dunia ini rusak dan hancur karena pemimpin-pemimpin dunia dan pemimpin-pemimpin agama tidak pernah jujur. Jujur itu menyakitkan. Tidak semua orang siap dengan kejujuran. Makanya Marly Knaofmone dan Uskup Saku dan komplotannya telah merekayasa kasus itu hanya dengan memberi sanksi suspensi bahwa mereka baru tahu setelah pemberitaan dan viral di media sosial. Kalau tidak ada pemberitaan dan tidak viral di media sosial, apakah mereka mau jujur dan mau beri klarifikasi dan mau beri sanksi suspensi untuk Marly?" tanya tokoh wanita Muslim Dunia yang sangat getol membela kaum perempuan dan anak dengan intonasi tajam dan kritis.

Hal yang sama disampaikan beberapa perwakilan keluarga di Atambua bahwa sebelum kasus itu terbongkar dan viral di media sosial, DU dan anaknya sering bertamu dan bermain ke Keuskupan Atambua dan juga ke Rumat Ret-ret Emaus, juga diikutkan makan siang bersama di sana. Pun, anaknya DU sering digendong Uskup Saku dan para pastor di sana.

"Bagaimana bisa pihak Keuskupan Atambua mengaku baru tahu kasus itu? Padahal DU dan anaknya sering bermain di sana dan makan di sana, juga Uskup Saku sering gendong dan bermain dengan Kevin. Artinya, sadar dan tidaknya, mereka sudah tahu hanya pura-pura tidak tahu untuk menutupi aib mereka ke publik supaya tidak malu muka di mata agama lain dan publik luas," kata mereka.

Umat Katolik Jaga Umat Katolik

Dalam kasus amoral yang dialami DU dan anaknya dan semua keluarga besarnya, seharusnya semua umat Katolik di sana mesti bersatu untuk menyuarakan kasus itu. Sebab, kasus itu terjadi karena sesama warga dan umat Katolik di sana tidak saling menjaga dengan baik, juga tidak saling peduli satu sama lain. Imbasnya, kaum tertahbis yang adalah Knaofmone itu dengan gatal birahi merusak harkat dan martabat perempuan di dunia lewat DU yang telah punya anak.

Foto: Marly Knaofmone.

"Hidup dan tumbuh di daerah mayoritas Katolik, tapi semuanya seperti penjahat. Aku lihat dan baca di berbagai sosial media, sesama umat Katolik saling sindir dan menyerang karena pelaku adalah pastor, dan umat tidak menerima kalau pastornya disalahkan. Ini sangat konyol dan keliru kalau punya logika berpikir sempit. Pelaku yang paksa korban, bukan korban yang menyerahkan diri. Geram dan emosi aku baca komentar-komentar perempuan Katolik di sana. Boleh miskin materi, tapi tidak boleh miskin empati atau peduli kepada korban dan anaknya. Kalau kasus itu menimpa kalian, apakah kalian masih mau ngomong begitu?" tanyanya tegas.

Secara historis dan wilayah administratif, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) masih sangat tertinggal jauh dari daerah-daerah lain di Indonesia. Hal itu menyebabkan pola pikir (mindset) warga NTT dengan tingkat pendidikan paling terendah kedua setelah Papua pada umumnya.

"Tidak bisa membenarkan kesalahan pastor hanya karena dia pastor. Kuliti kesalahannya (perilakunya) bukan menjaga wibawanya, nanti dia makin kurang ajar sama kalian. Cara paling gampang mendiamkan orang-orang bodoh adalah dengan ayat-ayat kitab suci dan ajaran agama. Bukankah di dalam ajaran agama dan kitab suci tertulis bahwa menjauhi yang jahat? Kenapa kalian di NTT suka hidup dan berteman dalam kejahatan? Uskup-uskup dan pastor-pastor di sana adalah pelaku kejahatan seperti kasus di Keuskupan Atambua karena tidak jujur dan suka berbohong demi nama baik gereja. Sudah banyak, kan, kasus kejahatan yang dilakukan uskup dan pastor di NTT?," kritiknya pedas.

Profesor Ini Minta Pecat Marly dan Utamakan DU dan Masa Depan Anaknya

Menurut Prof. Dr. dr. R. Lee, bahwa kasus kenakalan Marly Knaofmone menyebabkan kehamilan DU hingga melahirkan seorang anak pada tahun 2017 yang sudah sekolah SD Kelas 1 di Kota Atambua sebagai Pusat Keuskupan Atambua mengatakan ia mendesak dan menuntut Uskup Saku harus segera memecat Marly sebagai pastor sebagai bukti bahwa Uskup Saku benar-benar menegakkan aturan untuk melindungi korban dan anaknya dan semua keluarga besarnya, juga melindungi harkat dan martabat semua perempuan di Keuskupan Atambua supaya kasus tersebut tidak berulang lagi selama kepemimpinannya.

(Foto kolase dari akun FB-nya Fransisca Tri Susanti): Pastor Vincentius Wun SVD Vikaris Jenderal Keuskupan Atambua (bagian atas), Uskup Saku (bagian kiri), dan Marly Knaofmone (bagian kanan).

Bila Uskup Saku sebagai pimpinan otoritas Keuskupan Atambua tidak memecat pastor Marly karena kasusnya, ia menduga bahwa Uskup Saku juga memiliki perempuan simpanan, sehingga membuatnya tidak bersikap tegas terhadap bawahannya yang telah kedapatan berbuat salah menghamili DU hingga memiliki anak.

"Kenapa Uskup Saku tidak berani memecat Marly dari pastor menjadi awam? Jangan-jangan Uskup Saku punya perempuan simpanan di luar sana, yang belum diketahui publik. Alasan sederhananya itu karena Marly sekretaris pribadinya, bisa saja Marly pegang kartu AS-nya, sehingga dia sulit sekali memecat Marly. Tapi, kalau suatu kelak publik tahu Uskup Saku punya perempuan simpanan, semua orang Belu yang adalah tuan tanah dan pemilik Keuskupan Atambua bisa saja mengusir dan meludahi kamu karena punya kasus amoral," katanya menjelaskan, saat ditemui di kediamannya di Kota Phen, Thailand, Kamis (1/1/2025), juga fasih berbahasa Indonesia dan menguasai 7 bahasa asing.

"Jangan sampai emosi warga asli Belu sebagai tuan tanah berdirinya Gereja Katedral Atambua dan Pusat Keuskupan Atambua bisa meledak ketika tahu kasusnya kamu. Hati-hati, lho, karena sudah banyak kejadian di Thailand dan Nepal dan Vietnam dan Kamboja, tokoh agama Katolik diusir warga setempat karena kasus amoral. Aku memberi pesan karena semua keputusan itu ada unsur politis di dalamnya, tidak boleh kecewakan umat asli Belu, hati-hati," pesannya.

Ia menuntut Uskup Saku untuk secepatnya menyelesaikan kasus DU dan anaknya, supaya keduanya punya masa depan. Mengingat, anaknya DU saat ini sudah sekolah SD Kelas 1, dan itu membutuhkan biaya pendidikan hingga perguruan tinggi untuk masa depannya. Sedangkan DU dengan kasus ini, sudah pasti alami gangguan mental dan psikologis dan bisa menyebabkan penolakan di tengah masyarakat.

"Uskup Saku harus tanggung jawab semuanya itu. Perbuatan dan kenakalan Marly Knaofmone sadar dan tidaknya, atas izin dan sepengetahun kamu (Uskup Saku). Harus utamakan masa depan Kevin dan DU. Itu satu paket dan tidak bisa kamu tunda-tunda dan menolak," perintahnya tegas.

Kasus ini, sambungnya, diketahuinya dari berbagai platform media sosial seperti TikTok, Instagram, Facebook, Twitter/ X, Grup WhatsApp, Grup Telegram. Sebab, ia merupakan penggiat media sosial yang sangat aktif untuk mengikuti berbagai informasi dan perkembangan dunia dan daerah masing-masing di dunia ini.

"Kasus ini bukan barang baru bagiku. Aku sudah baca link beritanya, aku sudah lihat di berbagai sosial media, makanya aku tahu," tambahnya menjelaskan.

Ia juga meminta publik untuk tetap mengawal kasus ini, supaya tidak hilang begitu saja, termasuk mengontrol Marly sebagai bentuk antisipasi dipindahkannya ke luar daerah dan ke luar keuskupan lain dengan tidak memenuhi semua janjinya.

"Kalian (publik) harus kontrol dan kawal kasus ini, jangan sampai dipeti-es-kan oleh mafia-mafia di Keuskupan Atambua untuk menghilangkan jejak," tegasnya.

Hal sama, juga disampaikan perwakilan keluarga korban di Malaysia yang kebanyakan pekerja migran yang ditemui pada Rabu (31/12/2025) untuk mendesak Uskup Saku supaya mengutamakan DU dan anaknya untuk memiliki masa depan.

"Tanggung jawab semuanya yang kami butuhkan dari Uskup Saku sebagai pemimpin otoritas Keuskupan Atambua menyelesaikan semuanya secepatnya dan seadil-adilnya. Anda (Uskup Saku) tidak boleh mengelak, tidak boleh menghindar dari urusan masa depan DU dan anaknya sebagai korban kebiadaban Marly," desak perwakilan keluarga tegas.

Foto: Uskup Saku bermain dengan Kevin, anaknya Marly Knaofmone.

Bobroknya Struktural Kepemimpinan Uskup Saku

Menurut Prof. Dr. dr. R. Lee dan Dr. Nurhalimah, mengatakan semenjak terpilih dan ditahbiskan menjadi Uskup Atambua menggantikan Mendiang Uskup Emeritus Anton Pain Ratu SVD pada 21 September 2007 di Kota Atambua, banyak kasus dan/atau kejadian yang terjadi sangat marak selama kepemimpinan Uskup Saku. Itu menunjukkan bahwa struktural di dalam kepemimpinannya sangat bobrok dan manajemen pun amburadul, sehingga ketika viral baru menyangkal bahwa kasus itu baru didengar dan diketahui pihaknya.

"Pernah terjadi kasus heboh di Weluli, itu viral di sosial media, seorang Pastor nama Agustinus Kau Lake, persulit pasutri yang mau menikah. Lalu, kasus seorang Frater TOP, aniaya seorang siswa Seminari Lalian dan berujung sampai sidang di Pengadilan Negeri Atambua. Lalu, seorang Pastor di Halilulik terlibat kekerasan fisik dengan seorang umat di sana. Lalu, kasusnya Pastor Adi Ampolo di Bitauni, TTU. Lalu, kasus pastor Stef Sila hamili seorang perempuan di Eban, TTU. Lalu, kehebohan seorang Pastor nama Dery Saba mempertontonkan video-video tidak pantas dengan memeluk beberapa perempuan dan netizen kuliti habis-habisan. Lalu, terdengar desas-desus kasus Pastor Sony Akoit di Malaka, katanya punya kasus dengan perempuan, dan disentil netizen dan heboh. Lalu, kasus pecat Om Sarus Tampani secara sepihak dan ramai diberitakan media massa dan viral di sosial media. Lalu, viral dua Pastor Projo asal Belu dan Malaka yang kritis dan pemberani melawan Uskup Saku dan Saku mengancam dan memindakan keduanya ke pelosok. Lalu, viral kasus Tanah Bekas Keuskupan Atambua yang mau dijual ke pengusaha di Jakarta tahun 2016 dengan nilai jual 10 miliaran (6 miliaran sudah diterima dan sisanya tidak jadi menerima karena sudah viral lewat pemberitaan). Lalu, kasus tukar guling tanah sepihak di samping Puskesmas Kota (Puskot) Lama Atambua dengan seorang pengusaha di Atambua yang bernama Charlie Widodo. Masih banyak kasus-kasus lainnya," kata mereka menjelaskan.

Vikaris Jenderal Keuskupan Atambua Memblokir Nomor WhatsApp Tim Media

Hingga berita ini ditayangkan pada Jumat (2/1/2026), Pastor Vincentius Wun SVD sebagai Vikaris Jenderal Keuskupan Atambua, telah memblokir nomor WhatsApp tim redaksi yang telah mewawancarainya pada Rabu (31/12/2025), tentang hak asuh anak dan masa depan DU dan anaknya, dan beberapa pertanyaan lainnya tentang pernyataan dan klarifikasi yang seharusnya dibacakan Uskup Saku dan bukan dibacakan olehnya, tapi malah nomor tim kami diblokirnya dengan tidak mendapatkan jawaban apa pun darinya. ***/TIM

Bagikan
Tinggalkan komentar
Berita Terkait
Keuskupan Atambua Didesak Lindungi Korban, Hak Asuh Anak Dipersoalkan Karena Diberikan kepada Pastor
30 Desember 2025 - 00:42 Hukum dan Kriminal
Keuskupan Atambua Didesak Lindungi Korban, Hak Asuh Anak Dipersoalkan Karena Diberikan kepada Pastor

Keterangan: Uskup Dominikus Saku, Pr sebagai Uskup Keuskupan Atambua (bagian kiri) dan Romo Marly Knaofmone, Pr (bagian kakan) sebagai pelaku

Lebih Detail
Pastor Asal Noemuti TTU Hamili Gadis Belu, Keuskupan Atambua Tidak Beri Pernyataan Apa Pun
26 Desember 2025 - 18:38 Hukum dan Kriminal
Pastor Asal Noemuti TTU Hamili Gadis Belu, Keuskupan Atambua Tidak Beri Pernyataan Apa Pun

Keterangan foto: Romo Marly Knaofmone, Pr -- Pastor asal Noemuti, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), NTT, yang telah menghamili Dessy

Lebih Detail
Netizen Menuding: Hery Lau Cs Dalang Kematian Frans Asten Kepala BPBD Belu?
23 Desember 2025 - 03:31 Hukum dan Kriminal
Netizen Menuding: Hery Lau Cs Dalang Kematian Frans Asten Kepala BPBD Belu?

Keterangan foto: Heriberthus Lau atau Hery Lau adalah sopir pribadi Kepala BPBD Belu dan orang pertama yang mencari almarhum Frans

Lebih Detail